Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Biografi Ulama

Abah Lutfi Di Haul Agung Kanjeng Sunan Ampel Ke-567

'Umdat As-Salik Fi Khoir Al-Masalik Menggali Adab & Etika Para Salik

'Umdat As-Salik Fi Khoir Al-Masalik, salah satu karya mursyid thoriqoh Qodiriyah wa Naqsyabandiyah (TQN) KH. Muslih bin Abdurrohman bin Qoshidilhaq Mranggen Demak -Allah yarham- (1908 - 1981 M) yang dijuluki Abu Al-Masyayikh dan Syeikh Al-Mursyidin memuat berbagai adab dan etika murid thoriqoh (baca: salik). Menggunakan bahasa Arab fushah dikemas dengan ringkas dan jelas dengan terjemah jawa pegon. Bahasanya mengalir bak air, siapapun yang membaca seolah akan berhadapan langsung dengan Mbah Muslih terlebih jika membacanya diawali dengan membaca fatihah dengan niat dihadiahkan pahalanya kepada Mbah Muslih dan seluruh guru-gurunya.  Satu hal yang menarik diawal-awal kitab ini Mbah Muslih menjelaskan ada beberapa perbuatan ataupun perkataan yang dilontarkan oleh para arifin (orang-orang yang sudah ma'rifat kepada Allah) terkadang dohirnya menyalahi syariat namun inti dibalik perbuatan itu justru sesuai dengan Al-Qur'an maupun As-Sunnah. Statement beliau di awal tulisan ini men...

Biografi KH. Muhammad Ilyas Noor Kedungparuk Purwokerto (20 Agustus 1954 - 20 Mei 2016)

Murah Senyum KH. Muhammad Ilyas Noor lahir di Kedungparuk Purwokerto 20 Agustus 1954 M. Beliau adalah khalifah ketiga thoriqoh Naqsyabandiyah Kholidiyah setelah wafatnya kedua kakak beliau, KH. Said Ilyas Noor tanggal 3 Juli tahun 2004 dan KH. Abdul Qodir Ilyas Noor pada tanggal 19 Maret 2002, keduanya dimakamkan di belakang masjid Bahaul Haq Wadhiyauddin Kedungparuk. Ibunya Nyai Hj. Siti Khoiriyah adalah isteri KH. Ilyas Noor sekaligus putri Nyai Hj. Siti Chasanah isteri ke tiga KH. Abdul Malik bin Muhammad Ilyas Kedungparuk. Secara genealogis dari ketiga istri Mbah Malik yakni Nyai Hj. Warsiti, Mbah Mrenek dan Nyai Hj. Siti Chasanah hanya Nyai Hj. siti Chasanah lah yang putra-putrinya melanjutkan perjuangan Mbah Malik, adapun putra Nyai Hj. Warsiti yakni Busyeiri wafat di usia 30-an sedang Mbah Mrenek tidak meninggalkan keturunan. Menimba ilmu dari kakeknya KH. Abdul Malik bin Muhammad Ilyas berbagai disiplin ilmu baik ilmu dohir maupun batin. Kakeknya kerap kali mengaj...

Mbah Malik Kedungparuk

Abah Muhamad Ilyas Noor Mursyid Thoriqoh Naqsyabandiyah Kholidiyah (Wafat 20 Mei 2016)

Syekh Hasyim As-Sarwani bin Mu'im bin Abd. Wahhab Ar-Rokani Al-Kholidi An-Naqsyabandi Langkat

Makam Sidi Ali Al-Jamal

Syekh Ali bin Thoyyib Al-Arabi Ad-Darqawi Asy-Syadzili (w. 1239 H/1823 M)

Syekh Ahmad bin Musthofa Al-Alawi Ad-Darqowi Asy-Syadzili

Gus Mujib Hasyim Danawarih Balapulang Tegal

Frithjof Schuon Rene Guenon Dan Martin Lings

Frithjof Schuon, Rene Guenon dan Martin Lings, di kalangan pemikir barat mereka dikenal sebagai pemikir brilian penentang ajaran Islam. Tapi ternyata Allah berkehendak lain, mereka justru memeluk islam dan berbaiat tarekat syadziliyah. Frithjof Schuon berbaiat kepada Shaikh Ahmad Al’Alawi Asy Syadzili di Aljazair. Guenon dan Lings berbaiat kepada salah satu mursyid syadziliyah di Kairo. Pelan tapi pasti tarekat ini di awal abad 19 terus menyebar di kalangan akademisi barat utamanya di kalangan filosof.

Rene Guenon Mursyid Syadziliyah Dari Prancis

KH. Abu Hakim bin Abdurrahman Sekarputih Nganjuk Mursyid Thariqoh Syadziliyah

Syukuran Rumah Abah Lutfi Di Duren Sawit Jakarta Timur

KH. Soeratmo Muhammad Idris Kacangan Boyolali

Tarekat Syadziliyah Dari Timur Sampai Barat (Bag. 3)

Di Solo dan sekitarnya tarekat Syadziliyah sudah berkembang lama. Kiai Imam Rozi (Singo Manjat) pendiri Pondok Pesantren Singo Manjat Tempursari Klaten ada salah satu mursyidnya. Sama seperti di Sumolangu di kemudian hari banyak anak cucu dan muridnya yang melanjutkan kemursyidan tarekat Syadziliyah. Kiai Imam Razi adalah putra Kiai Maryani bin Kiai Wirononggo II bin Kiai Wirononggo I bin Kiai Singo Hadiwijoyo bin Kiai Tosari bin Kiai Ya’kub bin Kiai Ageng Kenongo. Ia lahir pada tahun 1801 M. Sejak kecil ia belajar agama dari ayahnya, Kiai Maryani, kemudian berguru kepada Kiai Rifai, yang sekarang makamnya ada di Gathak Rejo, Drono Klaten. Ia juga berguru kepada Kiai Abdul Jalil Kalioso bersama Kiai Mojo, Penasihat Pangeran Diponegoro. Kiai Abdul Muid adalah dzuriyah beliau dari melaui jalur Ibu Ny. Thohir, putri Kiai Zaid, yang berasal dari Gabudan, Solo. Kiai Muid inilah yang melanjutkan pembaitan tarekat Syadziliyah. Kiai Muid belajar kepada Syekh Abdurrohman Al Hasani Somalangu dan...

Tarekat Syadziliyah Dari Timur Sampai Barat (Bag. 2)

Somalangu & Tarekat Syadziliyah Di Jawa tengah selain Habib Lutfi tarekat syadziliyah juga disebarkan oleh Syekh Afifuddin bin Chanifuddin bin Mahfudz bin Abdurrohman Al Hasani yang berpusat di ponpes Al Kahfi, Somalangu, Sumberadi, Kebumen, alhamdulillah penulis sempat bertemu dengan sahabat saya yang merupakan santri Somalangu, Yusuf, bahkan sempat di berikan batu akik sebagai kenang-kenangan. Sepulang mondok di Watucongol, Muntilan Syekh Abdurrohman Abdurrohman Al Hasani mengangkat putranya Mahfudz muda menjadi mursyid Thariqah As-Syadziliyah penerus beliau. Tepatnya di usia yang masih 17 tahun, sepulangnya Syeikh As_Sayid Mahfudz pulang dari Pesantren Watucongol, Muntilan beliau diangkat oleh ayahnya menjadi mursyid Thariqah As-Syadziliyyah pada tahun 1336 H/1918 M. Untuk mengenang peristiwa ini, Syeikh Mahfudz Al-Hasani menyusun sebuah kitab manakib berjudul “ Sirajul Qulub ” (pelita hati) (1337 H), memuat sejarah perjalanan Imam Abul Hasan Ali As-Syadzili dan faham tasawufnya...

Makam Imam Asy Syadzili Tempo Dulu

Gunung Humaitsara April 1910 Peziarah makam Imam Asy Syadzili Masjid dan makam Imam Asy Syadzili Makam Imam Asy Syadzili April tahun 1925 Sumur Imam Asy Syadzili tahun 1905 - 1908 Makam Imam Asy Syadzili April tahun 1910 Tulisan di batu dekat makam Imam Asy Syadzili